Ada seorang gadis yang biasa aku panggil Biyaa.
Entah bagaimana semesta bekerja ketika mempertemukan aku
dengannya. Dari sekian banyak wajah yang pernah singgah dalam pandangan, entah
mengapa mataku selalu menemukan tempat paling teduh ketika memandangnya.
Bagiku, ia bukan sekadar cantik. Ia adalah bentuk keindahan yang barangkali
terlalu sulit diterjemahkan oleh kata-kata.
Di alam semesta yang begitu luas, dengan jutaan manusia yang
tumbuh di bawah langit yang sama, aku tetap percaya bahwa tak ada seorang pun
yang mampu menandingi kecantikannya. Bukan karena dunia benar-benar hanya
memiliki satu perempuan cantik, melainkan karena setelah mengenalnya, hatiku
seperti kehilangan kemampuan untuk membandingkan.
Malam-malamku pun perlahan memiliki kebiasaan baru.
Ada percakapan yang selalu kutunggu di layar ponsel. Ada
namanya yang membuat malam terasa sedikit lebih panjang untuk dinikmati. Kami
berbicara tentang banyak hal; tentang hari yang telah dilalui, tentang hal-hal
kecil yang sebenarnya tak penting, tentang cerita yang kadang tidak memiliki
ujung, sampai pada diam yang tetap terasa hangat meski hanya ditemani suara
dari kejauhan.
Aneh memang, bagaimana seseorang yang tidak berada di
samping kita dapat membuat kesepian terasa begitu jauh.
Aku sering menunggunya menanti kabar kepulanganku. Bukan
karena ada sesuatu yang luar biasa untuk diceritakan, tetapi karena aku tahu,
di suatu tempat, ada seseorang yang ingin memastikan bahwa aku telah sampai
dengan selamat. Dan setiap kali akhirnya bisa meneleponnya, rasanya seperti
pulang kepada rumah yang tidak pernah benar-benar berupa tempat.
Mungkin itulah sebabnya aku merasa begitu dimiliki.
Bukan dimiliki dengan cara yang membelenggu, melainkan
dengan cara yang membuatku merasa ada seseorang yang peduli pada keberadaanku.
Seseorang yang menunggu kabarku, seseorang yang namanya ingin selalu kusebut
dalam doa-doa yang paling sunyi.
Sebab pada akhirnya, cinta bukan hanya tentang siapa yang
membuat jantung berdebar. Lebih dari itu, cinta adalah tentang siapa yang
membuat kita ingin menetap.
Dan Biyaa adalah perempuan yang membuatku ingin tinggal
lebih lama di dunia ini.
Aku tidak tahu seperti apa masa depan akan menulis kisah
kami. Barangkali akan ada musim yang panjang, jarak yang melelahkan, hari-hari
yang menguji kesabaran, atau bahkan hal-hal yang belum pernah kami bayangkan
sebelumnya. Sebab kepastian memang bukan milik manusia. Kita hanya mampu
merencanakan, sedangkan semesta selalu memiliki caranya sendiri untuk
menentukan ke mana langkah akan bermuara.
Namun jika suatu hari aku diberi kesempatan untuk memilih
kembali, di antara ribuan kemungkinan yang ditawarkan kehidupan, aku ingin
tetap menemukan dia.
Aku ingin tetap mendengar suaranya di penghujung malam.
Tetap menunggu kabarnya.
Tetap menjadi seseorang yang ia cari ketika hari terasa
berat.
Tetap menjadi tempat pulang ketika dunia terlalu bising
untuk didengarkan.
Dan jika ada satu hal yang ingin kuusahakan lebih dari
sekadar mencintainya, mungkin itu adalah menjadikannya bagian dari seluruh
perjalanan hidupku.
Sebab aku tidak ingin mencintai Biyaa hanya untuk sementara.
Aku ingin bersamanya melewati pagi-pagi yang sederhana,
sore-sore yang melelahkan, malam-malam yang penuh percakapan, bahkan hari-hari
ketika kata-kata tidak lagi cukup untuk menjelaskan perasaan.
Aku ingin melihat bagaimana waktu menua bersama kami.
Bagaimana rambutnya perlahan berubah, bagaimana wajahnya
menyimpan jejak perjalanan, bagaimana kami saling belajar memahami kekurangan,
dan bagaimana suatu hari nanti kami dapat menoleh ke belakang lalu berkata
bahwa semua penantian itu ternyata tidak pernah sia-sia.
Karena bagiku, selamanya pun terasa terlalu singkat untuk
perempuan seperti dia.
Jika hidup hanya memberi kita satu kesempatan untuk
mencintai dengan sungguh-sungguh, maka aku ingin kesempatan itu bernama Biyaa.
Dan jika Tuhan mengizinkan aku menuliskan satu nama di
halaman terakhir perjalanan hidupku, aku tidak ingin menuliskan nama
siapa-siapa selain dia.
Bukan hanya untuk selamanya.
Tetapi lebih jauh dari apa yang mampu dijelaskan oleh kata selamanya.

Komentar
Posting Komentar