Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Diary

APA YANG PALING MENYAKITKAN DARI KENANGAN?

Sudah berjam-jam lalu aku mematung di depan laptop. Bingung, kata apa yang harus kutulis untuk mengawali cerita malam ini. Entah sudah lagu ke berapa yang habis kudengar, halaman demi halaman buku yang habis kubaca, berharap mendapat inspirasi cerita. Tapi, nihil. Aku masih kebingungan. Memang benar, bahwa hal tersulit dalam menulis adalah memulainya. Kalimat pertama adalah kunci untuk memasuki ruang-ruang selanjutnya. Dan lihat apa kalimat pertama pada tulisan ini? Silakan dibaca dari depan. Iya, benar sekali. Kalimat pertama tulisan ini adalah kebingungan. Tentu isi dari tulisan ini tidak jauh dari kalimat pertama tersebut; hanya berisi kebingungan-kebingungan belaka. Bahkan sebelum sampai akhir, isi dari  tulisan ini sudah bisa disimpulkan dengan cepat; iya, bingung. Tapi biar tidak klise, aku akan mencoba mengutip beberapa pesan kehidupan yang sempat aku baca di buku Tere Liye, tadi. Dalam buku #About Life Tere Liye bilang "Apa yang paling menyakitkan dari kenangan? Bukan kehi...

TABEBUYA

Cha! Tahukah kamu bahwa bunga Tabebuya kembali bermekaran, menghiasi setiap jengkal jalan kota Surabaya? Belum sampai satu tahun rasanya, ternyata Tabebuya mekar lebih cepat. Dari dulu aku tidak pernah tahu kalau di Surabaya ada bunga indah layaknya Sakura, sebelum kenal denganmu. Saat kita bersama barulah aku banyak mencari tahu tentang kota tempatmu tinggal dulu; Surabaya. Betapa terkejutnya diriku setelah tahu bahwa ketika Tabebuya bermekaran, kota Surabaya berubah layaknya di Jepang saat musim semi. Katanya tidak perlu jauh-jauh pergi ke Jepang, di Surabaya kita bisa menikmati lembar-lembar bunga yang jatuh di atas kepala, seperti di Jepang. Selain jatuh cinta kepadamu, aku juga jatuh cinta kepada Tabebuya; dulu. Sekarang? Entahlah. Memang ada yang menggelitik di dadaku saat tahu bahwa Tabebuya mulai bermekaran di Surabaya saat ini, ingatan tentangmu juga muncul tiba-tiba. Tapi aku tak tahu ini perasaan cinta atau bukan, seperti dulu. Aku juga sempat menulis tentang Tabebuya dulu, ...

AKU TELAH MERELAKANMU PENUH KETULUSAN

Hai, Cha! Malam ini suasana terasa lebih sunyi dan tenang dari biasanya. Bagaimana kabarmu? Pasti baik bukan? Harusnya begitu. Kamu harus baik dan bahagia. Tidak seperti biasanya, aku memilih berdiam diri di kamar, mengabaikan binatang-bintang di langit. Hanya angin lembut yang kubiarkan menyentuh wajah dan menemani kesunyian ini. Oh, iya. Selamat, Cha. Beberapa hari lalu aku tidak sengaja menemukan unggahan kekasihmu. Dari unggahan itu sudah cukup menjelaskan kepadaku bahwa kalian benar-benar telah resmi menjadi sepasang kekasih yang bahagia. Unggahan itu juga sudah cukup menenggelamkan harapanku ke dasar laut paling dalam; mati dan mungkin akan muncul ke permukaan sebagai bangkai tak bernyawa. Aku kembali melihat beberapa fotomu yang kuselipkan dalam dompet. Aku memilih membakarnya satu persatu bersamaan dengan perasaanku juga. Cha! Kenangan kita dahulu mungkin tidak terlalu manis dan berarti. Apalah artinya hubungan jarak jauh yang hanya bisa bersapa lewat layar kaca. Kita. Oh tidak...

DEBAT KANDIDAT CALON KETUA & WAKIL OSIS MADUBA

Hari ini di Madrasah ada acara debat kandidat calon ketua dan wakil OSIS. Acara ini mengingatkanku pada lima tahun lalu waktu aku masih menjadi siswa aktif. Pemilihan OSIS adalah momen yang paling mendebarkan dan sangat ditunggu-tunggu, terutama saat debat kandidat. Tidak kalah meriah dari pemilu, pemilihan OSIS juga menjadi ajang pesta demokrasi di Madrasah. Mulai dari pendaftaran calon, penyeleksian, kampanye, hingga proses pemilihan. Begitu pula hari ini. Siswa-siswa sangat antusias. Ada yang menarik dari acara debat kandidat siang tadi, yaitu salah-satu pasangan calon ketua nomor 01. Aku lupa namanya, tapi yang jelas dari ketiga paslon, dia adalah yang paling menarik menurutku. Argumennya bagus, pembawaannya tenang, dan cara bicaranya asik. Kalau melihat visi-misi yang dibawa oleh ketiga paslon, sebenarnya tidak jauh beda. Semuanya rata-rata membahas hal basic yang memang ada di madrasah. Yang paling ditekankan adalah etika, peningkatan kualitas dan kemampuan siswa. Nah, satu hal y...

MENULIS MENGEKALKANMU

Hari ini cukup melelahkan sekaligus menyenangkan. Aku tidak tahu bagaimana bisa dua kata yang kontradiktif itu bisa aku rasakan secara bersamaan. Kedengarannya memang agak aneh; lelah, senang. Harusnya dua kata itu tidak cocok jika disandingkan. Namun ternyata tidak demikian, hari ini aku merasakan dua hal itu sekaligus. Lelahnya karena seharian menghabiskan waktu di acara FLP Pamekasan, senangnya karena acara itu berjalan mulus, semulus kulitmu setelah memakai handbody. Dari dulu aku selalu suka kegiatan-kegiatan FLP. Baik kegiatan waktu masih di ranting; di pondok, sekarang di cabang, apalagi di wilayah. Cuma kegiatan FLP Nasional yang belum pernah aku ikuti. Barangkali karena kegiatan di FLP sejalan dengan hobiku; menulis. Acara tadi yaitu Training of Writer. FLP Pamekasan bekerja sama dengan DEMA dan LPM Inspirasi STAI Al-Mujtama' Plakpak. Yang menjadi mentor pada acara tadi, Mbak Joe Mawar dan Kak Sirajul Munir. Mereka berdua merupakan para senior di FLP Pamekasan. Lebih excit...

SEBENARNYA KULIAH ITU MEMBOSANKAN

Seperti biasa, duduk berlama-lama di bangku kuliah selalu membosankan. Entah hanya aku yang merasa atau semua mahasiswa pada umumnya juga merasa begitu; hal wajar mungkin. Suasana ramai oleh tawa, kipas angin yang terus berputar entah sudah putaran ke berapa kalinya. Begitu setiap hari. Satu-satunya yang membuatku terus bertahan dengan kebosanan itu adalah ketika berdiskusi atau bahkan berdebat dengan Paisol, teman kelas paling pintar yang sekaligus adalah sahabat baikku. Ketika berada di kelas aku selalu ingin mengalahkannya, meski belum bisa. Terbukti dari nilai kita dalam dua semester terakhir aku masih di bawahnya beberapa poin. Namun ketika keluar dari perkuliahan, kita adalah dua orang yang saling mendengarkan cerita satu-sama lain; memberikan masukan, nasehat, dan semacamnya. Teman makan yang sering khawatir terhadap masa depan masing-masing. Padahal ada pepatah mengatakan bahwa "Kekhawatiran tidak akan menghilangkan masalah di hari esok, namun selalu menghilangkan kedamaia...

"HALO!" SETELAH SEKIAN LAMA

Hai! Rasanya lumayan asing setelah sekian lama tidak menyentuh halaman ini. Tulisan terakhirku di blog ini tanggal 19 Oktober 2021-tiga tahun lalu. Jika diibaratkan sebuah rumah, maka setiap sudutnya barangkali telah berlumuran jaring laba-laba, berdebu, dan tak terawat. Malam ini sebelum hari berganti-detik-detik umurku menuju angka 23. Aku ingin mengisi lagi blog ini dengan cerita-cerita harianku, apa pun itu. Aku ingin mengecat ulang setiap warna dinding yang mulai memudar, membersihkan setiap ruangan yang lama tak berpenghuni dengan segala sedih dan senangku, tangis dan tawaku. Tapi aku tidak ingin berjanji akan konsisten. Sebab dari beberapa janji yang pernah aku ucapkan, pada akhirnya banyak yang tidak bisa aku tepati. Itu menjadi pelajaran bagiku untuk tidak gampang berjanji tentang apa pun, meskipun janji itu sangat mungkin untuk aku tepati. Karena sekarang aku berpikir bahwa selama sesuatu itu belum terwujud dan terjadi, masih ada kemungkinan rencana-rencana yang aku buat tida...

BELAJAR DARI PENGALAMAN

Berbicara masalah pengalaman, saya teringat teori salah-satu filsuf Inggris, Jonh Lock, tentang tabula rasa. Bahwa setiap orang yang baru lahir ibarat kertas kosong, dengan pengalaman-pengalaman yang dilihat dan dialami kertas kosong tersebut akan berisi warna-warni alam semesta. Karenanya pengalaman dianggap sebagai guru terbaik  “Experience is the best teacher”. Dan ternyata Rasulullah juga pernah membahas hal ini dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah. Beliau bersabda, “Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci) kecuali orang tuanya yang  menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari Muslim). Hal tersebut membuat saya sadar bahwa pengalaman memang pengetahuan terbaik dalam kehidupan, dan mendorong saya untuk menjadikan pengalaman sebagai pelajaran meraih kesuksesan. Bukankah kata Goethe “Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya”? Pada tahun 2017, awal pertama masuk Pondok Pesan...

KENANGAN DI PULAU GILI GENING; PANTAI SEMBILAN

Saat ini aku ingin berbagi cerita tentang perjalanan ke pantai sembilan, Gili Genting. Jadi kemarin, Kamis 20 Mei 2021, aku berkunjung ke pulau sebelah. Jalan jalan bersama teman. Sebenarnya tak ada yang menarik dari perjalanan ini. Pantai merupakan pemandangan yang tak lagi asing bagiku. Sebab aku adalah anak pulau. Rumahku di kelilingi oleh pantai pantai yang indah. Jadi berkunjung ke pantai sembilan merupakan hal yang biasa saja. Hanya yang membedakan, di pulauku tak ada gubuk gubuk dihias sedemikian bagus seperti di pantai sembilan. Namanya juga wisata, memang harus dihias sebagus mungkin agar pengunjung tertarik, kan? Namun entah karena malas, panas yang membakar, atau rasa capek yang belum hilang akibat naik kapal laut tadi, aku dan yang lainnya tak terlalu menikmati suasana pantai ini. Kita hanya mengambil beberapa foto kemudian duduk santai di gubuk yang telah tersedia. Ada juga teman teman yang asik merayu cewek cewek. Bukankah hal yang paling menyenangkan saat ada di pantai a...

HAMPIR PUTUS ASA

Hidup ternyata begitu keras, bahkan lebih keras dari batu karang yang ada di laut lepas. Selama hampir 20 tahun aku hidup di dunia ini, baru akhir-akhir ini aku menyadari bahwa kehidupan yang kita jalani tak seperti bayangan-bayangan sewaktu masih kecil dulu. Siap atau tidak, kita akan ikut serta di dalam peliknya keadaan semesta. Saling membenahi diri atau mungkin menjadi orang yang berlomba mencari kebahagiaan. Beberapa kali aku hampir putus asa dan bahkan ingin menyerah tanpa melihat bahwa di luar sana banyak orang yang lebih rumit hidupnya daripada diriku. Ditambah malam ini setelah mendengar cerita nenek, yang ternyata bertahun-tahun hidup mereka hanya dihabiskan untuk menyambung nyawa dengan perjuangan yang sangat keras. Demi mengisi perut dengan sebutir nasi untuk keluarga, mereka rela mengurangi tidur, menahan kantuk di malam hari. Berjemur di bawah terik matahari dengan peluh bercucuran di siang harinya, hingga tanpa disadari badan mulai kurus dan menghitam. Sampai di rumah, d...