Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Prosa

BIAR MALAM BERCERITA

Biar malam bercerita, betapa gelap bukanlah suatu yang menakutkan. Dalam gelap seseorang justru lebih mudah menemukan kerlip kecil yang tak dapat dilihat di antara terang cahaya. Seperti rindu dan senyumanmu. Biar malam bercerita, betapa gemintang yang bertaburan di langit seringkali kehilangan kedipnya. Bukan tertutup mendung atau malam akan segera pergi. Wajah berserimulah yang tak dapat dibendung sinarnya; kerap terselip di antara kilaunya. Biar malam bercerita, betapa suara burung kedasih sering terdengar ketika purnama tergantung di ujung cakrawala. Bunyinya bukan lantaran malam dan gulitanya. Melainkan ia khawatir bisikan lirihmu tak dapat lagi dibawa angin sampai pada gubukku. Biar malam bercerita, betapa bulan tanggal 15 bukanlah yang ditunggu-tunggu bulbul di ranting-ranting pohon. Apalah istimewanya bulan tanggal 15 bila tatap matamu tak ikut terbit. Purnama sepenuhnya tenggelam di wajahmu; rindu-rinduku. Biar malam bercerita, betapa semilir angin di bawah langit bertabur bin...

BERDIRILAH LAYAKNYA POHON KEHIDUPAN

Musim terus berganti; penghujan dan kemarau. Waktu berganti; pagi, siang, sore, hingga malam tiba. Jam berdetik dari angka satu ke angka selanjurnya. Terus begitu. Demikian siklus kehidupan. Setiap hari orang-orang baru lahir ke bumi bersama senyum bahagia, dan orang-orang lainnya menghembuskan napas terakhirnya diiringi isak tangis. Selain kelahiran dan kehidupan, orang-orang juga datang dan pergi. Bertemu lalu berpisah. Tertawa di taman luas, menangis di sudut kamar. Hidup kerap diibaratkan roda berputar karena terus mengikuti irama dan siklus kehidupan yang tak terputus itu. Bergerak dengan pola-pola tersebut. Maka apalah yang ditakutkan dari hidup? Semua hal pasti berlalu. Tidak ada yang abadi selain ketidak abadian itu sendiri. Hujan pasti reda, gelap malam disapu cahaya mentari pagi. Masalah-masalah hidupmu, sekalut apapun itu akan pergi darimu. Patah hati dan rasa pilu juga tidak akan selamanya membersamaimu. Bukan cuma hujan dan malam gelap. Pagi yang tenang dan senja yang mena...

AKU MEMIKIRKAN HUJAN TURUN HARI INI

"Kenapa kita mengenang banyak hal saat hujan? Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana bisa kita akan menghentikan tetes air yang jatuh dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya." _ Tere Liye *** Aku memikirkan hujan turun hari ini. Membasahi dinding-dinding rumah. Menciptakan nyanyian merdu di halaman dan sepanjang jalan yang sepi; tenang dan dingin. Aku memikirkan hujan, juga memikirkan dirimu. Karena kerap sekali wajahmu seakan mengintip dari balik jendela bersama kecipak air yang menempel di bagian kacanya. Hujan dan dirimu adalah kenikmatan yang patut disyukuri karena Tuhan telah menciptakan ingatan. Tidak ada yang lebih nikmat ketika hujan turun selain memulangkanmu ke dalam kepalaku. Sedih, pilu, dan senangnya serupa kopi yang tercampur dari pahit dan manis. Menciptakan rasa candu pada setiap tegukan. Bukankah kopi sempurna karena rasa pahitnya? Begitu pula diriku saat mengingatmu. Aku me...

TABEBUYA

Cha! Tahukah kamu bahwa bunga Tabebuya kembali bermekaran, menghiasi setiap jengkal jalan kota Surabaya? Belum sampai satu tahun rasanya, ternyata Tabebuya mekar lebih cepat. Dari dulu aku tidak pernah tahu kalau di Surabaya ada bunga indah layaknya Sakura, sebelum kenal denganmu. Saat kita bersama barulah aku banyak mencari tahu tentang kota tempatmu tinggal dulu; Surabaya. Betapa terkejutnya diriku setelah tahu bahwa ketika Tabebuya bermekaran, kota Surabaya berubah layaknya di Jepang saat musim semi. Katanya tidak perlu jauh-jauh pergi ke Jepang, di Surabaya kita bisa menikmati lembar-lembar bunga yang jatuh di atas kepala, seperti di Jepang. Selain jatuh cinta kepadamu, aku juga jatuh cinta kepada Tabebuya; dulu. Sekarang? Entahlah. Memang ada yang menggelitik di dadaku saat tahu bahwa Tabebuya mulai bermekaran di Surabaya saat ini, ingatan tentangmu juga muncul tiba-tiba. Tapi aku tak tahu ini perasaan cinta atau bukan, seperti dulu. Aku juga sempat menulis tentang Tabebuya dulu, ...

AKU TELAH MERELAKANMU PENUH KETULUSAN

Hai, Cha! Malam ini suasana terasa lebih sunyi dan tenang dari biasanya. Bagaimana kabarmu? Pasti baik bukan? Harusnya begitu. Kamu harus baik dan bahagia. Tidak seperti biasanya, aku memilih berdiam diri di kamar, mengabaikan binatang-bintang di langit. Hanya angin lembut yang kubiarkan menyentuh wajah dan menemani kesunyian ini. Oh, iya. Selamat, Cha. Beberapa hari lalu aku tidak sengaja menemukan unggahan kekasihmu. Dari unggahan itu sudah cukup menjelaskan kepadaku bahwa kalian benar-benar telah resmi menjadi sepasang kekasih yang bahagia. Unggahan itu juga sudah cukup menenggelamkan harapanku ke dasar laut paling dalam; mati dan mungkin akan muncul ke permukaan sebagai bangkai tak bernyawa. Aku kembali melihat beberapa fotomu yang kuselipkan dalam dompet. Aku memilih membakarnya satu persatu bersamaan dengan perasaanku juga. Cha! Kenangan kita dahulu mungkin tidak terlalu manis dan berarti. Apalah artinya hubungan jarak jauh yang hanya bisa bersapa lewat layar kaca. Kita. Oh tidak...

KEDAI KESEDIHAN

Di tempat ini. Meja membisu, gelas-gelas kehilangan aksara, kopi perlahan ditinggalkan kepulan asapnya. Hanya waktu yang terus berdetak seirama dengan denyut nadi dan alunan musik Inuysaha. Kedai kopi yang terasa sedu, seperti langit di malam ini yang juga terlihat hampa. Kedai ini menampung ribuan orang yang datang untuk menumpahkan kesedihan. Aku termasuk salah satu dari orang-orang yang termenung, memandang kosong jalanan yang ramai oleh para pejalan kaki dan kendaraan. Tapi keramaian itu hanya sebatas riuh yang tak mampu menghilangkan gemuruh luka dalam dada para pengunjung kedai ini. Di sudut ruangan, terlihat seorang wanita duduk dengan anggun sambil menyeduh jus satsuma imo. Anggun dan bersahaja. Beberapa kali, ia menampakkan senyum. Ah, gigi gingsul. Benar-benar menawan. Rasa penasaran menuntunku menghampiri wanita itu. Di tempat yang sedu ini, mengapa dia malah tampak bahagia? “Hei, wanita cantik, apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?” tanpa ragu, aku duduk di depannya. ...

HUJAN DAN PELAJARAN KEHIDUPAN

Gerimis kian berjatuhan tepat saat aku memulai tulisan ini. Suhu bertambah dingin. Angin kencang. Langit kelabu. Percikan airnya satu-satu menempel di kaca jendela. Sempurna, hujan jatuh hari ini. Sebenarnya aku tak ingin membahas tentang hujan pada tulisanku. Apalah istimewanya ia? Mungkin menurut sebagian orang, hujan itu memang keren banget, tapi tidak banyak pula orang-orang yang menggerutu saat hujan turun. Namun karena ia telah mengalihkan perhatianku, biar kuambil sedikit pelajaran saja dari hujan. Cobalah lihat baik-baik tiap tetes air yang jatuh memeluk bumi. Menggenang di jalanan, mengenang di ingatan, layaknya sebuah kehidupan.  Baik, mungkin kita akan sedikit membahas tentang hujan dan kebahagiaan. Anggap kita sedang mengkorelasikan antara keduanya. Hal yang sangat mendasar sekali sebenarnya. Barangkali tulisan ini akan menarik perhatian teman teman yang ingin hidup bahagia di jagat raya ini. Sebenarnya begini. Setiap hal yang kita lakukan dan pilih mempunyai risiko ter...