Langsung ke konten utama

KEDAI KESEDIHAN


Di tempat ini. Meja membisu, gelas-gelas kehilangan aksara, kopi perlahan ditinggalkan kepulan asapnya. Hanya waktu yang terus berdetak seirama dengan denyut nadi dan alunan musik Inuysaha. Kedai kopi yang terasa sedu, seperti langit di malam ini yang juga terlihat hampa.

Kedai ini menampung ribuan orang yang datang untuk menumpahkan kesedihan. Aku termasuk salah satu dari orang-orang yang termenung, memandang kosong jalanan yang ramai oleh para pejalan kaki dan kendaraan. Tapi keramaian itu hanya sebatas riuh yang tak mampu menghilangkan gemuruh luka dalam dada para pengunjung kedai ini.

Di sudut ruangan, terlihat seorang wanita duduk dengan anggun sambil menyeduh jus satsuma imo. Anggun dan bersahaja. Beberapa kali, ia menampakkan senyum. Ah, gigi gingsul. Benar-benar menawan.

Rasa penasaran menuntunku menghampiri wanita itu. Di tempat yang sedu ini, mengapa dia malah tampak bahagia?

“Hei, wanita cantik, apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?” tanpa ragu, aku duduk di depannya.

“Bukankah tempat ini bebas didatangi siapa saja?”

“Memang banar. Tapi aku rasa tempat ini bukan passion kamu banget,” sambil melihat sekitar “lihatlah semua orang di sini. Bagaimana bisa hanya kamu yang terlihat bahagia?”

“Iya, aku paham. Ini adalah tempat orang-orang galau, depresi, frustrasi, dan semacamnya.”

“Lantas?”

“Hanya sebatas mencari kebahagiaan.”

“Kebahagiaan di atas penderitaan orang lain maksudmu?”

“Hemz, kau tidak paham,” sambil beranjak dari duduknya, “bukankah kau tidak akan tahu apa itu bahagia tanpa tahu rasanya terluka?” lanjutnya, meninggalkan kedai ini

Banyuanyar, 1 Agustus 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LEBIH DARI SELAMANYA

Ada seorang gadis yang biasa aku panggil Biyaa. Entah bagaimana semesta bekerja ketika mempertemukan aku dengannya. Dari sekian banyak wajah yang pernah singgah dalam pandangan, entah mengapa mataku selalu menemukan tempat paling teduh ketika memandangnya. Bagiku, ia bukan sekadar cantik. Ia adalah bentuk keindahan yang barangkali terlalu sulit diterjemahkan oleh kata-kata. Di alam semesta yang begitu luas, dengan jutaan manusia yang tumbuh di bawah langit yang sama, aku tetap percaya bahwa tak ada seorang pun yang mampu menandingi kecantikannya. Bukan karena dunia benar-benar hanya memiliki satu perempuan cantik, melainkan karena setelah mengenalnya, hatiku seperti kehilangan kemampuan untuk membandingkan. Malam-malamku pun perlahan memiliki kebiasaan baru. Ada percakapan yang selalu kutunggu di layar ponsel. Ada namanya yang membuat malam terasa sedikit lebih panjang untuk dinikmati. Kami berbicara tentang banyak hal; tentang hari yang telah dilalui, tentang hal-hal kecil y...

AKU INGIN MENJAGAMU LEBIH DARI DIRIKU SENDIRI

  Byy, Aku tidak pernah tahu sejak kapan aku mulai mengkhawatirkanmu sedalam ini. Mungkin sejak aku mulai hafal caramu mengatakan “aku baik-baik saja”, padahal dari caramu mengetik saja aku tahu ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja. Atau mungkin sejak aku mulai merasa bahwa kabarmu bukan lagi sekadar kabar dari seseorang yang kukenal, melainkan sesuatu yang diam-diam kutunggu setiap hari. Ada perasaan yang tumbuh tanpa pernah meminta izin. Pelan-pelan. Hampir tidak terasa. Sampai akhirnya aku sadar, ternyata aku sudah terlalu jauh memikirkanmu. Aku memikirkan apakah hari ini kamu sudah makan. Apakah kamu cukup tidur. Apakah ada sesuatu yang membuatmu sedih tetapi tidak kamu ceritakan. Apakah hari ini kamu terlalu keras kepada dirimu sendiri. Hal-hal kecil semacam itu mungkin tidak penting bagi orang lain. Tapi entah kenapa, semuanya menjadi penting ketika tentangmu. Byy, aku tahu aku bukan laki-laki yang selalu tahu harus melakukan apa. Aku juga tidak ...

RUDI

Suara rintik hujan terdengar semakin ramai. Hujan pertama di bulan ini, tepat di pertengahan malam. Cerita itu ternyata benar bahwa hujan di malam hari akan membuat seseorang mengingat kenangan lebih banyak, lebih riuh. Melebihi jutaan tetes air dan riuhnya.  Hujan sering kali menjadi saat-saat paling susah untuk seseorang bisa move on. Entah apa sebenarnya hubungan keduanya - hujan dan kenangan. Apa jangan-jangan mereka saudara kembar yang Tuhan ciptakan dalam wujud yang berbeda? Begitulah yang Rudi pikirkan sejak pertama kali air hujan menetes di atap rumahnya. Dia sedang memikirkan wanita bernama Mia yang sudah lima tahun tak ada kabar. Nomor teleponnya mati, tidak pernah ada unggahan terbaru di media sosialnya. Entah berada di sudut dunia mana dia sekarang. Rudi merindukannya. Yang Rudi ingat ketika hujan turun di malam hari adalah pertemuan terakhirnya dengan Mia di persimpangan jalan dekat taman kota. Hujan turun saat itu. Rudi juga tidak menyangka bahwa pertemuan itu adalah ...