Berbicara masalah pengalaman, saya teringat teori salah-satu filsuf Inggris, Jonh Lock, tentang tabula rasa. Bahwa setiap orang yang baru lahir ibarat kertas kosong, dengan pengalaman-pengalaman yang dilihat dan dialami kertas kosong tersebut akan berisi warna-warni alam semesta. Karenanya pengalaman dianggap sebagai guru terbaik “Experience is the best teacher”. Dan ternyata Rasulullah juga pernah membahas hal ini dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah. Beliau bersabda, “Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci) kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari Muslim).
Hal tersebut membuat saya sadar bahwa pengalaman memang pengetahuan terbaik dalam kehidupan, dan mendorong saya untuk menjadikan pengalaman sebagai pelajaran meraih kesuksesan. Bukankah kata Goethe “Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya”?
Pada tahun 2017, awal pertama masuk Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuayar, ada pengalaman yang sampai saat ini membuat saya sadar dan bersyukur bahwa ini loh kehidupan. Entah cuaca sedang mendung atau cerah, yang pasti saat itu tepat pada musim pancaroba. Saya mendaftar di Madrasah Aliyah jurusan Bahasa. Karena di jurusan Bahasa pelajaran numerik paling rendah. Saya paling bosan jika harus dihadapkan dengan angka-angka. Jangankan untuk mempelajarinya, membacanya saja sudah memuat pusing kepala. Alasan yang cukup masuk akal, bukan? Bagi sebagian orang yang tidak suka pelajaran numerik, akan sangat setuju dengan alasan ini.
Setiap jurusan di Madrasah Aliyah Darul Ulum Banyuanyar memiliki tiga kelas; reguler 1, reguler 2, dan unggulan yang merupakan kelas favorit. Sama seperti kebanyakan siswa baru, saya juga ingin diterima di kelas unggulan. Itu menjadi ajang bergengsi tersendiri bagi para siswa baru.
Namun anehnya, dengan keinginan yang bisa dibilang besar itu saya malah tidak belajar sama sekali. Masih menggunakan metode lama ‘The power of kepepet’. Karena jujur ada banyak keajaiban yang saya alami saat menggunakan metode tersebut. Jadi saya santai dan yakin bahwa akan ada keajaiban yang terjadi saat tes nanti, dan tentu yang akan diujikan tidak akan berbeda jauh dengan pelajaran-pelajaran waktu MTs. Saya baru membuka buku satu jam sebelum tes dimulai, itu pun hanya beberapa menit saja.
Semua berjalan lancar, saya tidak merasa kesulitan dalam menjawab soal, meski tidak yakin pula bahwa jawabannya banyak yang benar. Bagi saya tidak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi, tinggal duduk manis sambil menunggu hasilnya. Yakin dan pasrah saja.
Namun ‘The power of kepepet’ yang selalu saya bangga-banggakan tidak selamanya menghasilkan sesuatu yang memuaskan. Di papan info nama ‘Naufal El Fany’ tidak tercantum dalam kelas unggulan, bahkan berada di urutan ke sembilan dari bawah. Positif berada di kelas reguler 2, kelas paling bobrok di mata para siswa. Tentu saya merasa sedih, meski tidak menyesal dengan hasilnya.
Karena setelah dipikir kembali mungkin ini yang dinamakan proses yang instan tidak akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Sesederhana air meneral saja membutuhkan proses panjang untuk diakui oleh masyarakat luas yang kemudian dianggap sangat penting sampai sekarang dan menjadi salah satu produk paling laku yang dibutuhkan masyarakat.
Thomas Alva Edison harus mengalami kegagalan sebanyak 9.998 kali, baru pada percobaan ke 9.999 lampu pijar berhasil diciptakan, ada pula yang mengatakan bahwa pada percobaan ke 10.001 kalinya dia baru berhasil. Salah-satu kata-katanya yang terkenal “Saya belum gagal. Saya baru saja menemukan 10.000 cara yang tidak akan berhasil”. Bill Gates harus mengalami banyak kegagalan sehingga menjadi orang paling kaya di dunia saat ini dengan perusahaan Microsoftnya. Jeff Bezos penemu Amazon, Hans dan Zacharias Janssen penemu mikroskop, bahkan Nabi Muhammad SAW. sendiri harus mengalami pahit manis, dan kerasnya perjuangan menegakkan agama Islam bahkan beliau harus dimusuhi oleh kaum dan pamannya sendiri. Dan banyak bukti nyata lainnya tentang hasil yang tidak akan pernah menghianati proses.
Dari kegagalan itu saya mencoba bangkit, tetap semangat mengikuti pelajaran, bertanya dan berdiskusi dengan siswa dan guru. Bahkan saya merasa bahwa kelas Bahasa reguler 2 ternyata tidak seburuk yang dikatakan para siswa lain. Kelas bisa hidup dengan pemikiran yang dihasilkan dari pendapat para teman-teman kelas. Untuk ukuran siswa baru, hal ini cukup menarik.
Hasilnya, semester 1 dan semester 2 siswa teladan program reguler, berturut-turut diraih oleh siswa dari kelas yang dianggap remeh ini; kelas 1 Bahasa reguler 2. Orang tersebut adalah saya. Bahkan saya sempat tidak percaya saat dipanggil, barangkali ada siswa yang nama dan alamatnya sama. Namun tidak, Naufal El Fany yang awal nilai tesnya peringkat 9 dari bawah berhasil meraih gelar siswa teladan dua semester berturut-turut, mengalahkan ribuan siswa lain dari program reguler.
Karena itu saya dipindah ke kelas unggulan. Ibu sampai terharu dan menangis melihat anaknya memegang piala penghargaan dan tersenyum di depan siswa lain dengan raut muka bahagia. Ya, saya bahagia waktu itu, sangat bahagia.
Pengalaman ini membuat saya berpikir dan sadar bahwa memang benar jalan Tuhan jauh lebih istimewa dari apa yang saya inginkan. Dia mengajarkan bahwa untuk sampai pada puncak bukit tertinggi harus mendakinya dari bawah dahulu. Bukankah angka 1000 dimulai dari angka 1?
Seandainya tidak masuk di kelas reguler 2, saya tidak akan tahu bahwa yang dikatakan siswa lain tentang kelas reguler 2 itu salah. Dan saya belajar bahwa segala sesuatu tidak bisa dinilai dari luarnya saja, tidak bisa diremehkan karena tingkatannya saja. Semua adalah tentang proses dan kemauan.
Maka benar sekali bahwa kesuksesan hanya terjadi pada mereka yang tidak pernah berhenti berusaha dan terus melakukan yang terbaik dalam hidup kemudian tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa lalu. Dan lagi, seandainya tidak masuk kelas reguler 2, saya tidak akan pernah menjadi siswa teladan program reguler dan membuat ibu bangga. Karena setelah masuk kelas unggulan saya hanya bisa bertahan di peringkat 3 sampai lulus.
Bukan berarti saya tidak berusaha, namun persaingan di kelas unggulan memang sangat ketat. Semua siswa memiliki kemampuan yang cepat dalam menyerap sebuah pelajaran. Kabar buruknya, saya selalu kalah di pelajaran Matematika. Namun bagi saya dapat bertahan di peringkat 3 besar hingga lulus merupakan pencapaian yang cukup luar biasa, mengingat peraih rangking 1 dan 2 tidak konsisten di posisinya.
Berawal dari pengalaman inilah yang membuat saya tidak pernah menyalahkan keadaan dan jalan yang ditetapkan Tuhan. Apa pun yang terjadi memiliki hikmah tersendiri untuk disyukuri, dan keajaiban ‘The power of kepepet’ tak selamanya bisa dijadikan pegangan mencapai hasil memuaskan. Karena sebagus apa pun hasilnya akan lebih maksimal sesuatu yang direncanakan dengan matang. Gunakan saja cara tersebut untuk sesuatu yang mendesak saja. Jika masih bisa diusahakan, lakukanlah yang terbaik.
Tugas makhluk yang bernama manusia memang hanya berusaha, selepasnya biar Tuhan yang menentukan jalan terbaik bagi hidup kita masing-masing. Terus berusaha meski selalu gagal. Tuhan tidak akan tega melihat makhluk-Nya bersedih, sebab kasih sayang-Nya jauh lebih luas dari murka-Nya. Orang non-Muslim saja tetap dikasihani dan mendapatkan kehidupan yang layak apalagi kita yang telah bersaksi bahwa Dialah satu-satunya Tuhan tempat meminta pertolongan. Barangkali Dia hanya ingin tahu sampai di mana kesungguhan kita untuk meraih cita-cita.
Saya teringat kata-kata Cak Lontong “Hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan”. Maka semakin banyak yang kita mempertaruhkan hidup, akan semakin terbuka lebar pula pintu menuju kesuksesan. Namun setiap orang hidup dengan pengalaman mereka masing-masing. Belum tentu apa yang saya alami juga terjadi pada orang lain.
Maka betapa pentingnya untuk tidak hanya belajar pada pengalaman diri sendiri. Paling tidak jika banyak belajar dari pengalaman orang-orang, kita sudah memiliki solusi saat mengalami problem yang sama dengan orang tersebut. Rasulullah pernah bersabda “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR. Tirmidzi).
Sebab pengalaman yang mengisi kertas kosong kata John Lock tadi, maka tidak mengambil pelajaran dari warna-warni semesta yang terlah kita lewati, “hidup tanpa menggunakan akalnya” kata Goethe.
Cocok sekali untuk para kaum milenial saat ini untuk tidak hanya menjadi kaum rebahan di tengah hebatnya rotasi zaman saat ini. Jika terus asik dengan kenyamanan, hanya sibuk update status tanpa meng-update kemampuan bersiap-siaplah menjadi korban kerasnya zaman. Dengan bahan pembelajaran yang semakin mudah didapat, harusnya para kaum milenial bisa lebih kreatif dan produktif. Tidak hanya cukup tertawa dan kagum melihat story orang-orang. Perbanyaklah mengkaji ayat-ayat semesta tentang kehidupan ini.

Komentar
Posting Komentar