Langsung ke konten utama

BERDIRILAH LAYAKNYA POHON KEHIDUPAN

Musim terus berganti; penghujan dan kemarau. Waktu berganti; pagi, siang, sore, hingga malam tiba. Jam berdetik dari angka satu ke angka selanjurnya. Terus begitu.

Demikian siklus kehidupan. Setiap hari orang-orang baru lahir ke bumi bersama senyum bahagia, dan orang-orang lainnya menghembuskan napas terakhirnya diiringi isak tangis.

Selain kelahiran dan kehidupan, orang-orang juga datang dan pergi. Bertemu lalu berpisah. Tertawa di taman luas, menangis di sudut kamar.

Hidup kerap diibaratkan roda berputar karena terus mengikuti irama dan siklus kehidupan yang tak terputus itu. Bergerak dengan pola-pola tersebut.

Maka apalah yang ditakutkan dari hidup? Semua hal pasti berlalu. Tidak ada yang abadi selain ketidak abadian itu sendiri.

Hujan pasti reda, gelap malam disapu cahaya mentari pagi. Masalah-masalah hidupmu, sekalut apapun itu akan pergi darimu. Patah hati dan rasa pilu juga tidak akan selamanya membersamaimu.

Bukan cuma hujan dan malam gelap. Pagi yang tenang dan senja yang menawan juga akan berakhir ketika sampai pada waktunya. 

Ingatlah pepatah tua itu; setelah ada kesulitan pasti ada kemudahan, dan setelah kemudahan kesulitan barangkali sedang menunggu di persimpangan jalan.

Maka teruslah hidup dengan baik. Masalah datang agar kita bisa lebih dewasa dan kuat. Keindahan datang agar kita bersyukur atas hidup yang dimiliki.

Berdirilah layaknya pohon yang kokoh. Meskipun daunnya gugur setiap musim, ia tak pernah tumbang diterpa angin. Hingga daun-daunnya tumbuh kembali di musim selanjutnya. (*)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

LEBIH DARI SELAMANYA

Ada seorang gadis yang biasa aku panggil Biyaa. Entah bagaimana semesta bekerja ketika mempertemukan aku dengannya. Dari sekian banyak wajah yang pernah singgah dalam pandangan, entah mengapa mataku selalu menemukan tempat paling teduh ketika memandangnya. Bagiku, ia bukan sekadar cantik. Ia adalah bentuk keindahan yang barangkali terlalu sulit diterjemahkan oleh kata-kata. Di alam semesta yang begitu luas, dengan jutaan manusia yang tumbuh di bawah langit yang sama, aku tetap percaya bahwa tak ada seorang pun yang mampu menandingi kecantikannya. Bukan karena dunia benar-benar hanya memiliki satu perempuan cantik, melainkan karena setelah mengenalnya, hatiku seperti kehilangan kemampuan untuk membandingkan. Malam-malamku pun perlahan memiliki kebiasaan baru. Ada percakapan yang selalu kutunggu di layar ponsel. Ada namanya yang membuat malam terasa sedikit lebih panjang untuk dinikmati. Kami berbicara tentang banyak hal; tentang hari yang telah dilalui, tentang hal-hal kecil y...

AKU INGIN MENJAGAMU LEBIH DARI DIRIKU SENDIRI

  Byy, Aku tidak pernah tahu sejak kapan aku mulai mengkhawatirkanmu sedalam ini. Mungkin sejak aku mulai hafal caramu mengatakan “aku baik-baik saja”, padahal dari caramu mengetik saja aku tahu ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja. Atau mungkin sejak aku mulai merasa bahwa kabarmu bukan lagi sekadar kabar dari seseorang yang kukenal, melainkan sesuatu yang diam-diam kutunggu setiap hari. Ada perasaan yang tumbuh tanpa pernah meminta izin. Pelan-pelan. Hampir tidak terasa. Sampai akhirnya aku sadar, ternyata aku sudah terlalu jauh memikirkanmu. Aku memikirkan apakah hari ini kamu sudah makan. Apakah kamu cukup tidur. Apakah ada sesuatu yang membuatmu sedih tetapi tidak kamu ceritakan. Apakah hari ini kamu terlalu keras kepada dirimu sendiri. Hal-hal kecil semacam itu mungkin tidak penting bagi orang lain. Tapi entah kenapa, semuanya menjadi penting ketika tentangmu. Byy, aku tahu aku bukan laki-laki yang selalu tahu harus melakukan apa. Aku juga tidak ...

RUDI

Suara rintik hujan terdengar semakin ramai. Hujan pertama di bulan ini, tepat di pertengahan malam. Cerita itu ternyata benar bahwa hujan di malam hari akan membuat seseorang mengingat kenangan lebih banyak, lebih riuh. Melebihi jutaan tetes air dan riuhnya.  Hujan sering kali menjadi saat-saat paling susah untuk seseorang bisa move on. Entah apa sebenarnya hubungan keduanya - hujan dan kenangan. Apa jangan-jangan mereka saudara kembar yang Tuhan ciptakan dalam wujud yang berbeda? Begitulah yang Rudi pikirkan sejak pertama kali air hujan menetes di atap rumahnya. Dia sedang memikirkan wanita bernama Mia yang sudah lima tahun tak ada kabar. Nomor teleponnya mati, tidak pernah ada unggahan terbaru di media sosialnya. Entah berada di sudut dunia mana dia sekarang. Rudi merindukannya. Yang Rudi ingat ketika hujan turun di malam hari adalah pertemuan terakhirnya dengan Mia di persimpangan jalan dekat taman kota. Hujan turun saat itu. Rudi juga tidak menyangka bahwa pertemuan itu adalah ...