Aku pernah berpikir bahwa rindu hanya milik mereka yang sedang berjauhan.
Mereka yang dipisahkan kota, waktu, atau keadaan. Mereka yang hanya bisa memandang seseorang melalui layar, menunggu kabar yang tak kunjung datang, atau menghitung hari sampai akhirnya bisa bertemu.
Ternyata aku keliru.
Sebab ternyata ada rindu yang tumbuh justru ketika seseorang berada begitu dekat.
Dan entah sejak kapan, aku mengalaminya kepadamu.
Aku merindukanmu bahkan ketika kau sedang duduk di sampingku.
Ketika jarak di antara kita hanya beberapa jengkal, ketika suaramu terdengar begitu jelas, ketika matamu masih bisa kutatap tanpa perantara apa pun.
Aku tetap merindukanmu.
Bukan karena kau kurang dekat.
Mungkin justru karena kau terlalu dekat dengan hatiku.
Ada sesuatu tentangmu yang membuat kehadiranmu tidak pernah terasa cukup. Bukan karena aku serakah ingin memilikimu lebih banyak, tetapi karena setiap kali bersamamu, selalu ada bagian dari diriku yang ingin mengenalmu lebih jauh.
Aku ingin tahu lebih banyak tentang apa yang kau pikirkan ketika kau diam.
Aku ingin tahu cerita-cerita yang belum pernah kau ceritakan.
Aku ingin mengenal sisi dirimu yang bahkan mungkin belum pernah kau tunjukkan kepada siapa pun.
Seolah-olah mencintaimu membuatku selalu berada di depan sebuah pintu yang tidak pernah selesai kubuka.
Dan semakin lama aku mengenalmu, semakin banyak hal yang ingin kuketahui.
Barangkali itulah mengapa aku merindukanmu bahkan ketika kita sedang bersama.
Aku tidak hanya merindukan kehadiranmu.
Aku merindukan kemungkinan-kemungkinan kecil tentang dirimu.
Aku merindukan senyummu sebelum kau tersenyum.
Merindukan tawamu sebelum kau tertawa.
Merindukan cerita yang belum sempat kau ceritakan.
Merindukan pelukan yang bahkan belum kulepaskan.
Aneh memang.
Bagaimana mungkin seseorang bisa merindukan sesuatu yang sedang terjadi?
Tetapi mungkin cinta yang terlalu dalam memang tidak mengenal logika semacam itu.
Ia tidak selalu datang sebagai kekosongan.
Kadang ia justru datang sebagai kepenuhan yang begitu besar, sampai hati tidak tahu harus menyimpannya di mana.
Maka ia berubah menjadi rindu.
Aku sering melihatmu dan tiba-tiba ingin melihatmu lagi.
Mendengar suaramu dan beberapa saat kemudian ingin mendengarnya kembali.
Menghabiskan waktu bersamamu, lalu di tengah-tengah percakapan itu muncul keinginan sederhana:
"Bolehkah waktu berhenti sebentar saja?"
Bukan karena aku takut kau pergi.
Bukan pula karena aku tidak percaya bahwa kita akan bertemu lagi.
Aku hanya sedang jatuh cinta pada keberadaanmu dengan cara yang mungkin sulit dijelaskan.
Aku ingin menikmati setiap bagian kecil tentangmu.
Cara kau memanggil namaku.
Cara kau bercerita tentang hal-hal sederhana.
Cara wajahmu berubah ketika sedang bahagia.
Bahkan caramu diam pun kadang ingin kusimpan lebih lama.
Sebab ketika seseorang telah begitu dalam tinggal di hati, hal-hal kecil tentang dirinya tidak lagi terasa kecil.
Semuanya menjadi sesuatu yang ingin dikenang.
Dan mungkin itulah yang membuatku selalu merindukanmu.
Karena setiap kali bersamamu, aku seperti menemukan versi lain dari dirimu yang belum selesai kucintai.
Hari ini aku mengenal tawamu.
Besok mungkin aku akan jatuh cinta pada caramu menenangkan seseorang.
Lusa mungkin pada caramu menghadapi kesedihan.
Dan entah berapa banyak hari lagi yang harus kulewati untuk menyadari bahwa ternyata masih ada begitu banyak hal tentangmu yang bisa membuatku jatuh cinta sekali lagi.
Mungkin cinta memang seperti itu.
Ia tidak selalu meminta seseorang pergi agar kita bisa merasakan rindu.
Kadang ia justru membuat kita ingin semakin dekat kepada seseorang yang sudah berada di depan mata.
Semakin dekat.
Semakin mengenal.
Semakin ingin tinggal.
Dan semakin mencintai.
Jadi jika suatu hari kau bertanya,
"Mengapa kau masih merindukanku, padahal kita sedang bersama?"
Mungkin aku tidak akan punya jawaban yang sempurna.
Aku hanya akan tersenyum dan mengatakan:
Karena berada di dekatmu tidak pernah membuatku berhenti menginginkan kedekatan.
Karena satu pertemuan denganmu selalu membuatku ingin bertemu lagi.
Karena satu pelukan darimu selalu membuatku ingin memelukmu lebih lama.
Karena satu malam bersamamu selalu terasa terlalu singkat.
Dan karena entah bagaimana, mencintaimu membuat hatiku selalu menemukan alasan baru untuk merindukanmu.
Bukan sebab kau jauh.
Tetapi sebab aku mencintaimu terlalu dalam.
Sedalam itu, sampai bahkan ketika kau sedang berada tepat di hadapanku — hatiku masih ingin lebih dekat lagi.

Komentar
Posting Komentar