Langsung ke konten utama

Postingan

RUDI

Suara rintik hujan terdengar semakin ramai. Hujan pertama di bulan ini, tepat di pertengahan malam. Cerita itu ternyata benar bahwa hujan di malam hari akan membuat seseorang mengingat kenangan lebih banyak, lebih riuh. Melebihi jutaan tetes air dan riuhnya.  Hujan sering kali menjadi saat-saat paling susah untuk seseorang bisa move on. Entah apa sebenarnya hubungan keduanya - hujan dan kenangan. Apa jangan-jangan mereka saudara kembar yang Tuhan ciptakan dalam wujud yang berbeda? Begitulah yang Rudi pikirkan sejak pertama kali air hujan menetes di atap rumahnya. Dia sedang memikirkan wanita bernama Mia yang sudah lima tahun tak ada kabar. Nomor teleponnya mati, tidak pernah ada unggahan terbaru di media sosialnya. Entah berada di sudut dunia mana dia sekarang. Rudi merindukannya. Yang Rudi ingat ketika hujan turun di malam hari adalah pertemuan terakhirnya dengan Mia di persimpangan jalan dekat taman kota. Hujan turun saat itu. Rudi juga tidak menyangka bahwa pertemuan itu adalah ...

SELAYAKNYA CINTA, RINDU JUGA PUNYA TANGGAL KADALUARSA

Malam terus menua. Dinding-dinding rumah mulai dingin. Kaca jendela dihinggapi tetes embun. Namun aku belum bisa memejamkan mata. Beberapa lembar buku puisi telah kujamah. Lagu-lagu Bernadya tak lupa memenuhi ruangan; lirih dan syahdu. Sebagaimana pun indahnya lirik lagu Bernadya, tetap saja, sakitnya lebih terasa. Aku mencoba menerka-nerka isi kepalaku. Apa yang ia mau hingga tak mau berkompromi dengan mata agar terlelap. Ternyata ia sedang kedapatan tamu; rindu-rindu kepadamu dirimu. Entahlah, mengapa semakin hari, sesuatu yang bernama rindu ini semakin menjadi-jadi. Padahal apa yang patut dirindukan? Bukankah rindu hanya bisa terjadi pada sesuatu yang kita miliki? Sedangkan kau tidak pernah menjadi milikku. Aku memang tidak pernah mencoba untuk membunuh mati rindu ini. Karena menurutku, semakin kita paksa membunuhnya, semakin hidup abadi pula ia dalam ingatan kita. Barangkali karena rindu ini teramat cantik rupanya. Segala sesuatu yang cantik dan indah memang sukar untuk dihilangkan...

APA YANG PALING MENYAKITKAN DARI KENANGAN?

Sudah berjam-jam lalu aku mematung di depan laptop. Bingung, kata apa yang harus kutulis untuk mengawali cerita malam ini. Entah sudah lagu ke berapa yang habis kudengar, halaman demi halaman buku yang habis kubaca, berharap mendapat inspirasi cerita. Tapi, nihil. Aku masih kebingungan. Memang benar, bahwa hal tersulit dalam menulis adalah memulainya. Kalimat pertama adalah kunci untuk memasuki ruang-ruang selanjutnya. Dan lihat apa kalimat pertama pada tulisan ini? Silakan dibaca dari depan. Iya, benar sekali. Kalimat pertama tulisan ini adalah kebingungan. Tentu isi dari tulisan ini tidak jauh dari kalimat pertama tersebut; hanya berisi kebingungan-kebingungan belaka. Bahkan sebelum sampai akhir, isi dari  tulisan ini sudah bisa disimpulkan dengan cepat; iya, bingung. Tapi biar tidak klise, aku akan mencoba mengutip beberapa pesan kehidupan yang sempat aku baca di buku Tere Liye, tadi. Dalam buku #About Life Tere Liye bilang "Apa yang paling menyakitkan dari kenangan? Bukan kehi...

BIAR MALAM BERCERITA

Biar malam bercerita, betapa gelap bukanlah suatu yang menakutkan. Dalam gelap seseorang justru lebih mudah menemukan kerlip kecil yang tak dapat dilihat di antara terang cahaya. Seperti rindu dan senyumanmu. Biar malam bercerita, betapa gemintang yang bertaburan di langit seringkali kehilangan kedipnya. Bukan tertutup mendung atau malam akan segera pergi. Wajah berserimulah yang tak dapat dibendung sinarnya; kerap terselip di antara kilaunya. Biar malam bercerita, betapa suara burung kedasih sering terdengar ketika purnama tergantung di ujung cakrawala. Bunyinya bukan lantaran malam dan gulitanya. Melainkan ia khawatir bisikan lirihmu tak dapat lagi dibawa angin sampai pada gubukku. Biar malam bercerita, betapa bulan tanggal 15 bukanlah yang ditunggu-tunggu bulbul di ranting-ranting pohon. Apalah istimewanya bulan tanggal 15 bila tatap matamu tak ikut terbit. Purnama sepenuhnya tenggelam di wajahmu; rindu-rinduku. Biar malam bercerita, betapa semilir angin di bawah langit bertabur bin...

BERDIRILAH LAYAKNYA POHON KEHIDUPAN

Musim terus berganti; penghujan dan kemarau. Waktu berganti; pagi, siang, sore, hingga malam tiba. Jam berdetik dari angka satu ke angka selanjurnya. Terus begitu. Demikian siklus kehidupan. Setiap hari orang-orang baru lahir ke bumi bersama senyum bahagia, dan orang-orang lainnya menghembuskan napas terakhirnya diiringi isak tangis. Selain kelahiran dan kehidupan, orang-orang juga datang dan pergi. Bertemu lalu berpisah. Tertawa di taman luas, menangis di sudut kamar. Hidup kerap diibaratkan roda berputar karena terus mengikuti irama dan siklus kehidupan yang tak terputus itu. Bergerak dengan pola-pola tersebut. Maka apalah yang ditakutkan dari hidup? Semua hal pasti berlalu. Tidak ada yang abadi selain ketidak abadian itu sendiri. Hujan pasti reda, gelap malam disapu cahaya mentari pagi. Masalah-masalah hidupmu, sekalut apapun itu akan pergi darimu. Patah hati dan rasa pilu juga tidak akan selamanya membersamaimu. Bukan cuma hujan dan malam gelap. Pagi yang tenang dan senja yang mena...

AKU MEMIKIRKAN HUJAN TURUN HARI INI

"Kenapa kita mengenang banyak hal saat hujan? Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana bisa kita akan menghentikan tetes air yang jatuh dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya." _ Tere Liye *** Aku memikirkan hujan turun hari ini. Membasahi dinding-dinding rumah. Menciptakan nyanyian merdu di halaman dan sepanjang jalan yang sepi; tenang dan dingin. Aku memikirkan hujan, juga memikirkan dirimu. Karena kerap sekali wajahmu seakan mengintip dari balik jendela bersama kecipak air yang menempel di bagian kacanya. Hujan dan dirimu adalah kenikmatan yang patut disyukuri karena Tuhan telah menciptakan ingatan. Tidak ada yang lebih nikmat ketika hujan turun selain memulangkanmu ke dalam kepalaku. Sedih, pilu, dan senangnya serupa kopi yang tercampur dari pahit dan manis. Menciptakan rasa candu pada setiap tegukan. Bukankah kopi sempurna karena rasa pahitnya? Begitu pula diriku saat mengingatmu. Aku me...

TABEBUYA

Cha! Tahukah kamu bahwa bunga Tabebuya kembali bermekaran, menghiasi setiap jengkal jalan kota Surabaya? Belum sampai satu tahun rasanya, ternyata Tabebuya mekar lebih cepat. Dari dulu aku tidak pernah tahu kalau di Surabaya ada bunga indah layaknya Sakura, sebelum kenal denganmu. Saat kita bersama barulah aku banyak mencari tahu tentang kota tempatmu tinggal dulu; Surabaya. Betapa terkejutnya diriku setelah tahu bahwa ketika Tabebuya bermekaran, kota Surabaya berubah layaknya di Jepang saat musim semi. Katanya tidak perlu jauh-jauh pergi ke Jepang, di Surabaya kita bisa menikmati lembar-lembar bunga yang jatuh di atas kepala, seperti di Jepang. Selain jatuh cinta kepadamu, aku juga jatuh cinta kepada Tabebuya; dulu. Sekarang? Entahlah. Memang ada yang menggelitik di dadaku saat tahu bahwa Tabebuya mulai bermekaran di Surabaya saat ini, ingatan tentangmu juga muncul tiba-tiba. Tapi aku tak tahu ini perasaan cinta atau bukan, seperti dulu. Aku juga sempat menulis tentang Tabebuya dulu, ...